Kompetensi Kepribadian Guru


             Kompetensi kepribadian adalah salah satu kompetensi yang penting dimiliki oleh seorang guru profesional. Tanpa kompetensi ini maka seorang guru hanyalah seperti gong yang gemerincing. Alkitab memberikan informasi kepada setiap orang Kristen agar memiliki kualifikasi kepribadian yang lebih baik dengan orang-orang yang diajarnya, bahkan dunia ini. Seperti yang ditampilkan oleh Tuhan Yesus Kristus sang Guru Agung kita (bnd. Mat. 7:28-29). Ia adalah seorang guru kompetensi kepribadian yang sempurna, khususnya dalam hal belas kasihan. Saya melihat dalam keempat kitab Injil bahwa Tuhan Yesus Kristus adalah seorang guru yang memiliki kepedulian terhadap murid-murid-Nya (bnd. Mat. 9:36 ). Berbeda dengan ahli-ahli Taurat dan imam yang pintar dalam mengajar namun tidak memiliki belas kasihan (bnd. 23:4-7). Menurut pengamatan saya dalam kehidupan sehari-hari, belas kasihan adalah barang langka sebab ada beberapa guru yang tidak membudayakan karakter belas kasihan seperti yang diteladankan oleh Tuhan Yesus. Hal itu nampak dalam tindakan mereka yang kadang-kadang menganiaya peserta didik dengan tidak sewajarnya. Mis, seorang peserta didik yang terlambat datang ke kelas langsung dianiaya dengan menyuruh seluruh peserta didik di kelas itu untuk menampar temannya. Sehingga anak itu mengalami kesakitan dan trauma datang ke sekolah. Demikian juga dengan sikap guru yang memisahkan urusan di lingkungan belajar dengan di luar lingkungan belajar. Bagi mereka menjadi seorang guru hanyalah menyampaikan materi sedangkan apa yang dialami peserta didik dalam kesehariannya tidak perlu untuk diperhatikan. Saya pikir hal ini adalah suatu masalah yang perlu ditanggulangi agar guru-guru Kristen itu menampilkan sosok guru yang total.

         Salah satu unsur atau faktor utama dalam pendidikan adalah guru. Bahkan ada yang mengatakan bahwa guru adalah segalanya. Guru yang memiliki kompetensi kepribadian yang berkualitas tentu akan berdampak bagi peserta didiknya. Sebaliknya, jikalau gurunya tidak menampilkan cara hidup yang baik, hal itu pun dirasakan oleh peserta didiknya.
Oleh karena guru memiliki kedudukan dan peran yang penting dalam pembelajaran maka perlulah guru untuk memiliki berbagai kompetensi. Misalnya, kompetensi pedagogis, sosial, profesional dan terutama dalam hal kepribadian. Dewasa ini dan ke depan berbagai kalangan mengharapkan agar guru-guru Kristen dapat menjadi teladan bagi peserta didiknya. Dan salah satu karakter yang perlu dimiliki oleh guru Kristen dalam mengemban dan menunaikan tugas dan panggilannya adalah belas kasihan. Karakter belas kasihan menjadi penting karena Allah memerintahkannya dan Yesus Kristus mempraktekkannya dalam proses belajar mengajar selama kurang lebih 3, 5 tahun. Tiga sifat pelayanan Yesus yaitu mengajar, memberitakan Injil dan menyembuhkan berbagai penyakit selalu di dasari oleh belas kasihan. Itu sebabnya, setiap guru Kristen perlu memikirkan dan mengembangkan karakter belas kasihan agar menjadi gaya hidup, baik dalam konteks keluarga, gereja, masyarakat, dan terutama dalam konteks sekolah.

A.    Pengertian Belas Kasihan
Saya sependapat dengan J. M. Price yang memandang belas kasihan sebagai simpati[1]. Hal ini nampak dari pernyataannya dalam buku Yesus Guru Agung yang menyatakan  “Memang kadang-kadang Ia pun bersama dengan orang banyak. Orang-orang mengikuti Dia di Kapernaum, Yerusalem, Dekapolis, dan tempat-tempat lain. Kadang-kadang mereka berjumlah 4.000 sampai 5000 orang. Ia menaruh simpati kepada mereka, Ia berbicara dengan mereka, Ia memberi mereka makan, dan Ia menyembuhkan mereka. Simpati merupakan sikap peduli terhadap sesama yang muncul dari hati seseorang yang merasakan apa yang dirasakan oleh orang lain dan yang diwujudnyatakan dalam tindakan.


B.     Makna Belas Kasihan
Belas kasihan merupakan realita kehidupan yang tidak bisa diabaikan. Namun, belas kasihan yang dimaksud tidaklah berhenti pada aspek perasaan saja, namun harus diikuti dengan tindakan. Seperti yang dilakukan oleh Yesus Kristus, diawali dengan rasa belas kasihan lalu dilanjutkan dengan suatu tindakan nyata dan mukjizat (bnd.  Mat. 9:36; Mat. 14:14; dll). Kisah yang  sangat terkenal tentang belas kasihan dicatat oleh Lukas (bnd. 10:25-37). Kisah itu menceritakan mengenai orang Samaria yang menolong seorang Ibrani yang telah dirampok dan sedang terluka. Dalam kisah ini, Yesus menggambarkan bahwa belas kasihan tidak dibatasi oleh perbedaan ras, tradisi atau status sosial. Belas kasihan bebas dari rasa pamrih dan kepentingan pribadi. Inilah yang perlu diperhatikan oleh seorang guru dalam hubungannya dengan peserta didik yaitu belas kasihan yang tidak  dibatasi oleh ras, agama, status, intelektual, dll. Misalnya, seorang guru tidak boleh hanya menyenangi seorang peserta didik yang pintar dan mengabaikan yang kurang pintar. Justru seorang guru adalah menolong peserta didik yang kurang pintar agar dapat mengikuti pelajaran dan menjadikan mereka menjadi pribadi yang hebat. Belas kasihan ditunjukkan bagi mereka yang benar-benar membutuhkannya.
C.    Ruang Lingkup Kompetensi Kepribadian
Kompetensi kepribadian adalah kemampuan personal yang mencerminkan kepribadian yang mantap, stabil, dewasa, arif dan berwibawa, menjadi teladan bagi peserta didik, dan berakhlak mulia[2]. Jika dibagi ke dalam sub kompetensi maka:
·         Kepribadian yang mantap dan stabil
·         Kepribadian yang dewasa
·         Kepribadian yang arif
·         Kepribadian yang berwibawa
·         Berakhlak mulia dan dapat menjadi teladan. Karakter belas kasihan termasuk dalam bagian ini. Sebab indikator dari sub kompetensi ini adalah bertindak sesuai dengan norma religius (iman, takwa, jujur, ikhlas, suka menolong) dan memiliki perilaku yang diteladani oleh peserta didik.
D.    Masalah Terkait Dengan Karakter Belas Kasihan
·         Praktek ketidakdisiplinan dalam mengemban dan menunaikan tugas dan panggilannya sebagai guru. Hal ini disinyalir karena kurang peduli dengan kebutuhan peserta didik.
·         Pemberian hukuman dengan kekerasan dan teguran dengan mengucapkan kata-kata kotor.
·         Tidak mau meningkatkan kompetensi diri untuk lebih baik dari sehari ke sehari. Seyogianya, orang yang peduli terhadap peserta didiknya akan terus membangun kompetensi diri agar dapat memberikan yang terbaik bagi mereka. Howard Hendricks (1987) mengemukakan bahwa guru harus menjadi pembelajar. Kalau ia berhenti belajar sekarang, perubahan pengetahuan, sikap, nilai hidup, dan spiritualitasnya di masa mendatang akan mandeg. Akibatnya peserta yang di didik tidak memperoleh hal-hal yang baru dari proses belajar mengajar.
·         Memandang tugas mengajar hanya sebatas menyampaikan materi atau bahan pengajaran. Contoh, ada seorang guru Kristen yang datang ke kelas hanya memberi ilmu atau mentransfer pengetahuan, dan sesudah mengajar ia pulang tanpa peduli mengenai hal-hal yang dialami dan dihadapi peserta didiknya. Dalam hal ini ia melupakan perannya yang lain sebagai konselor, gembala, pembimbing, dll.
·         Kurangnya koordinasi antara guru dan orangtua. Guru tidak menjalin relasi yang baik dengan orangtua dalam mengajar dan mendidik peserta didiknya. Padahal seharusnya guru dan orangtua adalah rekan sekerja. Namun, karena kurangnya kepedulian hal itu tidak bisa tercipta.
·         Tidak mengetahui banyak mengenai peserta didiknya; latar belakang keluarga, ekonomi, lingkungan tempat tinggal, dll.
·         Tidak memberikan jalan keluar bagi mereka yang tidak mampu membayar uang sekolah, buku, study tour, dll.
·         Memberikan tugas-tugas yang berat terhadap peserta didiknya tanpa bersedia untuk mendampinginya.
·         Memaksakan kehendak terhadap peserta didiknya. Dalam hal ini peserta didiknya tidak dilibatkan dalam perencanaan proses belajar-mengajar.


E.     Teladan Hidup Berbelas Kasihan
1.      Allah Bapa
Yang pertama sekali mempraktikkan cara hidup yang penuh belas kasihan adalah Allah Bapa (bnd. Rom. 5:8). Para nabi dan abdi Allah sadar akan keajaiban rahmat dan belas kasih Allah terhadap orang berdosa dan orang sengsara[3]. Allah Bapa penuh belas kasih (Pengasih dan Penyayang) lihat, 2 Kor. 1:3; Kel. 34:6; Neh. 9:7; Mzm. 86:15). Demikian juga di dalam Yohanes 3:16, bahwa Allah mengaruniakan Yesus Kristus datang ke dunia ini adalah untuk menebus dan menyelamatkan manusia berdosa atas dasar kasih-Nya yang amat besar.
2.      Allah Putera Yaitu Yesus Kristus
Hati Yesus kerap kali tergugah oleh belas kasih. Ada beberapa ayat yang merepresentasikan bahwa Yesus Kristus adalah pribadi yang penuh belas kasihan[4] yaitu:
·         Matius 9:36. Kata ini dipakai di dalam Matius 9:36, yang menyebutkan Yesus Melihat orang banyak itu, tergeraklah hati Yesus oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka lelah dan terlantar seperti domba yang tidak bergembala. Dalam hal ini bisa dikatakan bahwa Yesus juga peduli terhadap kebutuhan jasmani.
·         Matius 14:14. Kali kedua penggunaan kata 'belas kasihan' ini adalah di dalam peristiwa pemberian makan kepada 5000 orang (Matius 14:14) dan 4000 orang (Matius 15:32).
·         Markus 1:41. Yang ketiga kalinya, kata ini digunakan di dalam Markus 1:41 di mana Yesus berbelas kasihan kepada penderita kusta.
·         Matius 20:34. Peristiwa keempat di mana Dia berbelas kasihan adalah saat menyembuhkan dua orang buta.
·         Lukas 7:11. Kejadian kelima di mana Dia berbelas kasihan dalam peristiwa janda dari Nain yang ditinggal mati oleh anaknya, di dalam Lukas 7:11.
Dari ayat tersebut diatas dapat disimpulkan bahwa Yesus Kristus sangat peduli terhadap penderitaan yang dialami oleh orang banyak, baik penderitaan secara fisik, penderitaan secara psikologis maupun penderitaan secara rohani.
3.      Allah Roh Kudus
Alkitab menyebutkan Roh Kudus sebagai penolong (bnd. Yoh. 14:16), penghibur (bnd. 14:26), membantu untuk berdoa (bnd. Rom. 8:28), yang memimpin ke dalam seluruh kebenaran (bnd. Yoh. 16:13), menginsafkan dunia akan dosa (bnd. Yoh. 16:8), Roh Kudus diutus untuk menyertai setiap orang yang percaya kepada-Nya (bnd. Yoh. 16:16) menunjukkan bahwa Ia adalah pribadi yang penuh belas kasihan, bahkan jati diri-Nya adalah kasih.
F.     Kunci Hidup Berbelas Kasihan
Ada beberapa dasar yang harus disadari dan dipikirkan oleh guru Kristen agar menampilkan hidup yang berbelas kasihan dalam mengemban dan menunaikan tugasnya sebagai pengajar dan pendidik yaitu:
1.      Mengemban Dan Menunaikan Tugas Panggilannya Dengan Hati Bukan Dengan Otak.
Mengajar dan mendidik dengan otak hanya akan menjadikan guru peduli terhadap masalah seputar pendidikan, namun ia akan mengabaikan masalah-masalah pribadi yang dihadapi oleh peserta didiknya. Yang penting baginya adalah menyampaikan materi pengajaran dengan sebaik-baiknya sehingga peserta didik menguasai apa yang diajarkannya. Namun, hal-hal yang membuat peserta didik kurang bersemangat dalam mengikuti proses belajar tidak terlalu penting baginya. Demikian juga dengan peserta didik yang kurang pintar tidak akan disenangi melainkan dipukul, diejek, dan dipermalukan. Seharusnya, Ia bertugas untuk membantunya agar dapat mengikuti proses belajar mengajar dengan baik. Belas kasih dianugrahkan pada peserta didik yang sebenarnya sangat membutuhkannya. Mengenai hal ini, J.M. Nainggolan dalam buku Guru Agama Kristen Sebagai Panggilan Dan Profesi menyatakan;
Guru sebagai pengajar dan pendidik siswa berperanan membantu siswa dalam menghadapi masalah-masalah belajarnya. Tugas guru bukan hanya memberi ilmu, mentransfer ilmu dan sudah mengajar pulang. Guru juga adalah sebagai gembala bagi para muridnya. Ia memberi perhatian, simpati, dan bersikap empati kepada siswanya.[5]
Dalam hal ini seorang guru Kristen hendaknya memperlakukan siswanya sebagai pribadi yang utuh. Guru yang baik akan peka terhadap kebutuhan peserta didiknya. Sebelum memberi penghakiman, hukuman atau teguran,  ia akan mencoba mencari tahu mengapa peserta didiknya mendapat nilai jelek di sekolah atau menjadi pembuat masalah di sekolah. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa hanya orang yang mengemban dan menunaikan tugas panggilannya dengan hatilah yang dapat melihat kebutuhan terdalam dari orang lain dan mau berkorban baginya. Dan jika hal ini tercipta maka guru Kristen akan mengajar peserta didiknya dengan sikap hati melayani supaya mereka menjadi generasi-generasi yang kreatif.
2.      Mengemban Dan Menunaikan Tugas Dan Panggilannya Dengan Motivasi Untuk Membuat Hidup Orang Lain Lebih Baik Demi Kemuliaan Nama Tuhan, Bukan Hanya Untuk Mengisi Perut.
Dalam hidup manusia, ada dua kekuatan pendorong yang paling kuat. Pertama, “kelaparan” alias perutnya”. Kedua, “belas kasihan” atau “hatinya”. Yang menjadi pertanyaan saat ini adalah apa pendorong guru-guru Kristen yang paling kuat dalam mengemban dan menunaikan tugas dan panggilannya? Perutkah atau hati? Banyak sekali guru-guru yang menata kehidupannya dengan meletakkan kepentingan perutnya sebagai fokus atau menjadi guru hanya sebagai profesi. Seluruh tujuan hidupnya dipahami sebagai bagaimana mempertahankan hidup. Apa akibatnya? Yang bersangkutan justru akan rakus, kasar, dan kurang peduli terhadap orang lain, termasuk peserta didiknya. Yang prioritas baginya adalah kepentingan dirinya bukan kepentingan bersama. Bagi dia segala sesuatu yang tidak mendatangkan keuntungan tidak dilakoninya. Dalam hal ini perlu disadari oleh setiap guru Kristen bahwa menjadi guru adalah profesi dan panggilan hidup[6].
3.      Membangun Spiritualitas Yang Sehat Dengan Memiliki Keakraban Dengan Allah Tritunggal.
Pengenalan yang bertambah baik tentang pribadi Yesus akan memungkinkan guru untuk makin berubah dalam aspek kepribadian, yang ukurannya ialah menyerupai Kristus yang lemah lembut dan rendah hati serta penuh belas kasihan[7]. Tanda bahwa manusia semakin bertumbuh dalam spiritualitas adalah bahwa ia semakin mampu menunjukkan belas kasihan kepada orang lain. Yoh. 14: 21 mengatakan “Barangsiapa memegang perintah-Ku dan melakukannya Dialah yang mengasihi Aku,……………..” Kasih terhadap peserta didik dapat terwujud dalam praktek belajar mengajar apabila seorang guru telah mengasihi Allah yang lebih dahulu mengasihinya. Keinginan untuk mengasihi peserta didik timbul sebab ia merasa bahwa ia sudah dikasihi oleh Tuhan dan ia akan mengejawantahkannya kepada orang lain sebagai ungkapan syukur atas belas kasihan-Nya. Dengan kata lain, bersekutu secara akrab atau bersahabat dengan Yesus, dikatakan atau dijanjikan-Nya bahwa kita akan berbuah seterusnya (bnd. Yoh. 15:4,5). Ada energi kehidupan di dalam diri mereka yang terus berelasi dengan Yesus (bnd. Yoh. 7:38)[8].
Penyerahan diri secara total kepada Roh Kudus juga adalah kunci untuk memiliki karakter-karakter Allah. Hal ini bisa dilihat dalam Galatia 5: 22-25, bahwa orang yang dipimpin oleh Roh akan menghasilkan buah-buah Roh yaitu kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan dan penguasaan diri. Hal ini senada dengan pandangan B.S. Sidjabat Ed.D, yang memaparkan:
Roh Allah di dalam diri kita mengerjakan banyak perkara luar biasa. Diantaranya, Dia bertugas menyatakan identitas diri kita sebagai anak-anak Allah; bahwa kita menjadi milik atau kawanan keluarga dari Allah Sang Khalik. Keyakinan ini sangat kuat, bahkan mendorong kita berani untuk menyaksikan kepada orang lain. Roh itu memberikan hikmat dan pengertian spiritual, yang mempengaruhi pola pikir, perasaan dan sikap serta moral kita. Roh Kudus itu pula yang akan memberikan tabiat-tabiat baru, karakter atau akhlak mulia, sebagaimana didambakan oleh masyarakat dewasa ini[9].
4.      Memiliki Kerinduan Untuk Hidup Lebih Baik.
Kemampuan atau kompetensi memang tidak datang begitu saja tanpa upaya untuk meningkatkan diri dan merupakan usaha sepanjang hayat. Seperti yang dikatakan bahwa belajar di sekolah ada tamat atau lulusnya namun membangun karakter belas kasihan adalah upaya secara terus-menerus sampai Tuhan datang untuk kedua kalinya. Dalam hal ini seorang guru Kristen dapat terus bertanya kepada dirinya sendiri tentang bagaimana supaya hidup saya lebih baik atau lebih memiliki belas kasihan? Salah satu strategi yang dapat dilakukan untuk membangun dan mengembangkannya adalah dengan memasuki komunitas yang mempraktekkan kepedulian terhadap orang lain. B.S. Sidjabat Ed.D mengatakan bahwa spiritualitas dapat berkembang baik ketika kita ikut dalam aksi sosial, seperti mengunjungi orang sakit dan menderita dan membantu mereka.
Bisa juga dengan memasuki komunitas kawan-kawan seiman. Persekutuan itu menjadi wadah pertumbuhan spiritualitas dalam Kristus dan yang pada akhirnya akan diikuti oleh perubahan karakter. Seperti dikatakan di dalam Amsal 27:17 “Besi menajamkan besi, orang menajamkan sesamanya”. Guru Kristen tidak dapat bertumbuh dan berkembang dalam suasana terisolasi atau kesendirian. Itu sebabnya perlu untuk aktif dalam sebuah komunitas yang membangun.
5.      Berpegang Pada Firman Tuhan Yang Berbicara Mengenai Kompetensi Kepribadian
Alkitab banyak berbicara mengenai berbagai kompetensi kepribadian[10]. Itu sebabnya setiap guru Kristen perlu untuk bergaul karib dengan Firman Tuhan agar prinsip-prinsip yang termaktub di dalamnya dapat tertanam dan menjadi gaya hidup.
G.    Pentingnya Praktek Hidup Yang Berbelas kasihan
Pentingnya praktek hidup yang berbelas kasihan dimiliki oleh orang Kristen terutama oleh guru-guru Kristen adalah karena Allah sendiri yang memerintahkan[11] dan mempraktekkannya. Di Kitab Injil sangat jelas dicatat bahwa Ia menyuruh murid-murid-Nya untuk menunjukkan belas kasih kepada orang lain yang membutuhkan pertolongan mereka. Belas kasih mereka harus serupa dengan belas kasih-Nya, bahkan diperintahkan untuk berkorban bagi orang lain (1 Yoh. 3:17). Belas kasihan Allah  tampak dalam sikap-Nya terhadap semua ciptaan-Nya. Tak seekor burung pipit pun dilupakan-Nya (Luk. 12:6). Allah memberi makan burung-burung gagak (12:24) dan mendandani tanam-tanaman (12:27-28). Para pengikut Yesus dengan demikian mendapat pelajaran ini; Allah memelihara semua yang telah diciptakan-Nya, pasti akan memelihara mereka.[12] Demikian juga seorang guru perlu mempraktekkannya dalam perencanaan dan pelaksanaan tugas mengajar-Nya. Sebagaimana, Yesus tergerak hati-Nya oleh belas kasihan, demikianlah hendaknya setiap guru tergerak hatinya melihat peserta didiknya yang mengalami masalah. Contoh, praktek belas kasihan antara guru dan peserta didik:
a.     Menjenguk peserta didik yang sakit         
b.     Membantu peserta didik yang tertimpa musibah
c.    Menolong peserta didik yang kesusahan  
d.   Membantu memecahkan masalah peserta didik
e.    Meringankan biaya sekolah                       
f.     Dll.
Yang menarik adalah bahwa tiga sifat tugas pelayanan Yesus Kristus yang dicatat di dalam Alkitab yaitu mengajar, memberitakan Injil serta melenyapkan segala penyakit (bnd. Mat. 4:23;9:35) dilakukan dengan motif belas kasihan yaitu belas kasihan terhadap orang Israel yang tidak memiliki pemimpin yang diberikan Allah (bnd. Bil. 27:17-20; 1 Raja-raja 22:17)[13]. Itu sebabnya guru-guru Kristen perlu memiliki motif yang sama dalam menunaikan panggilannya.

Di dalam arus dunia yang kejam dan menghalalkan segala cara demi kepentingan diri sendiri, karakter Allah dan teladan Yesus Kristus perlu dipikirkan dan dikumandangkan oleh guru-guru Kristen saat-saat ini. Meskipun belas kasihan tampaknya jarang ditemukan pada masa kini, guru-guru Kristen dipanggil untuk menjadi serupa dengan Kristus, Dengan demikian dapat disebut sebagai guru yang memiliki kualifikasi kepribadian yang berkualitas.
Guru-guru Kristen perlu membangun dan mengembangkan sikap simpati terhadap peserta didik. Setiap peserta didik membawa konsep positif dan negatif dari lingkungannya. Itu sebabnya, perlu disadari bahwa Tuhan memanggil dan menetapkan menjadi guru agar memberi perhatian bahkan membantu pemenuhan kebutuhan mereka. Guru adalah teladan bagi peserta didiknya. Bukan hanya teladan dalam hal menyampaikan materi, namun juga teladan dalam sikap hidup yang di dalamnya menampilkan hidup yang berbelas kasihan.
Dengan demikian dapat dikatakan bahwa Alkitab dan Tuhan Yesus Kristus Sang Guru Agung adalah norma dan teladan dalam menanggapi tugas dan panggilan sebagai guru. Itu sebabnya guru-guru perlu mempelajari profil Yesus sebagai guru Agung di dalam Alkitab karena hal itu tetap relevan dari zaman ke zaman.




[1] Simpati adalah keikutsertaan  merasakan perasaan (senang, susah, dsbg) orang lain. Misalnya, melihat  rakyat yang menderita akibat bencana alam. Lihat, Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia (Jakarta: Balai Pustaka, 2003), h. 1067.
[2] Dikutip oleh B.S. Sidjabat Ed.D dalam buku Yesus Sang Guru dan Profesi Keguruan (Cihanjuang:Tiranus, 2008), h. 55, dari “Direktorat Ketenagaan Dirjen Dikti dan Direktorat Profesi Pendidik Ditjen PMPTK Depdiknas Dengan Modifikasi” dalam Kunandar, Guru Profesional (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2007: 75-77).
[3] LAI, Ensklopedi Alkitab Masa Kini Jilid A-L (Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih, 2004), h. 528.
[4] Ini merupakan contoh belas kasihan Yesus terhadap orang yang memerlukan pertolongan. Lihat, LAI, Alkitab Penuntun Hidup Berkelimpahan (Malang: Gandum Mas, 2006), h. 1533.
[5] J. M. Nainggolan, Menjadi Guru Agama Kristen Sebagai Panggilan Dan Profesi (Bandung: Bina Media Informasi, 2010), h. 175.
[6] Menjadi guru Kristen adalah sebagai profesi dan panggilan hidup. Di satu pihak dia bertanggungjawab terhadap pemerintah atau organisasi. Dan pihak lain dia harus bertanggung jawab kepada Tuhan yang sudah memanggil dan menetapkannya sebagap pengajar. Hal ini sudah dibahas oleh J. M. Nainggolan di bawah judul, Guru Agama Kristen Sebagai Panggilan dan Profesi (Bandung: Bina Media Informasi, 2010).
[7] B.S. Sidjabat Ed.D, Mengajar Secara Profesional (Bandung: Kalam Hidup, ), h. 73.
[8] B.S. Sidjabat Ed.D, Yesus Sang Guru Dan Proofesi Keguruan (Cihanjuang: Tiranus, 2008), h. 67.
[9] B.S. Sidjabat Ed.D, Yesus Sang Guru Dan Profesi Keguruan (Cihanjuang: Tiranus, 2008), h.66.
[10] Sebagai guru dan pelaku pendidikan kita tidak kekurangan sumber berharga dari Firman Tuhan untuk pengembangan kepribadian kita. Kalau kita membawa diri dan pribadi kita seutuhnya ke tengah-tengah kelas ketika melayani anak didik, betapa pentingnya kita bertumbuh dengan kompetensi kepribadian yang terpuji. Lihat, B.S. Sidjabat, Ed.D, Yesus Sang Guru Dan Profesi Keguruan (Cihanjuang: Tiranus, 2008), h. 57.
[11] Lihat, Matius 9:13Jadi pergilah dan pelajarilah arti firman ini: Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan, karena Aku datang bukan untuk memanggil orang benar”.
[12] Leon Morris, Teologi Perjanjian Baru (Malang: Gandum Mas, 2001), h. 212.
[13] LAI, Tafsiran Alkitab Masa Kini – Matius Wahyu (Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih, 2006), h. 82.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Keluaran 17:8-16 Mengalami Kemenangan

MENGUCAP SYUKUR DALAM SEGALA HAL 1 TESALONIKA 5:18

Menjadi Pelayan Kristus yang Berkualitas