Kompetensi Kepribadian Guru
Kompetensi kepribadian
adalah salah satu kompetensi yang penting dimiliki oleh seorang guru
profesional. Tanpa kompetensi ini maka seorang guru hanyalah seperti gong yang
gemerincing. Alkitab memberikan informasi kepada setiap orang Kristen agar
memiliki kualifikasi kepribadian yang lebih baik dengan orang-orang yang
diajarnya, bahkan dunia ini. Seperti yang ditampilkan oleh Tuhan Yesus Kristus
sang Guru Agung kita (bnd. Mat. 7:28-29). Ia adalah seorang guru kompetensi
kepribadian yang sempurna, khususnya dalam hal belas kasihan. Saya melihat
dalam keempat kitab Injil bahwa Tuhan Yesus Kristus adalah seorang guru yang
memiliki kepedulian terhadap murid-murid-Nya (bnd. Mat. 9:36 ). Berbeda dengan
ahli-ahli Taurat dan imam yang pintar dalam mengajar namun tidak memiliki belas
kasihan (bnd. 23:4-7). Menurut pengamatan saya dalam kehidupan sehari-hari,
belas kasihan adalah barang langka sebab ada beberapa guru yang tidak
membudayakan karakter belas kasihan seperti yang diteladankan oleh Tuhan Yesus.
Hal itu nampak dalam tindakan mereka yang kadang-kadang menganiaya peserta
didik dengan tidak sewajarnya. Mis, seorang peserta didik yang terlambat datang
ke kelas langsung dianiaya dengan menyuruh seluruh peserta didik di kelas itu
untuk menampar temannya. Sehingga anak itu mengalami kesakitan dan trauma
datang ke sekolah. Demikian juga dengan sikap guru yang memisahkan urusan di
lingkungan belajar dengan di luar lingkungan belajar. Bagi mereka menjadi
seorang guru hanyalah menyampaikan materi sedangkan apa yang dialami peserta
didik dalam kesehariannya tidak perlu untuk diperhatikan. Saya pikir hal ini
adalah suatu masalah yang perlu ditanggulangi agar guru-guru Kristen itu
menampilkan sosok guru yang total.
Salah satu unsur
atau faktor utama dalam pendidikan adalah guru. Bahkan ada yang mengatakan
bahwa guru adalah segalanya. Guru yang memiliki kompetensi kepribadian yang
berkualitas tentu akan berdampak bagi peserta didiknya. Sebaliknya, jikalau
gurunya tidak menampilkan cara hidup yang baik, hal itu pun dirasakan oleh
peserta didiknya.
Oleh karena guru
memiliki kedudukan dan peran yang penting dalam pembelajaran maka perlulah guru
untuk memiliki berbagai kompetensi. Misalnya, kompetensi pedagogis, sosial,
profesional dan terutama dalam hal kepribadian. Dewasa ini dan ke depan
berbagai kalangan mengharapkan agar guru-guru Kristen dapat menjadi teladan
bagi peserta didiknya. Dan salah satu karakter yang perlu dimiliki oleh guru
Kristen dalam mengemban dan menunaikan tugas dan panggilannya adalah belas
kasihan. Karakter belas kasihan menjadi penting karena Allah memerintahkannya
dan Yesus Kristus mempraktekkannya dalam proses belajar mengajar selama kurang
lebih 3, 5 tahun. Tiga sifat pelayanan Yesus yaitu mengajar, memberitakan Injil
dan menyembuhkan berbagai penyakit selalu di dasari oleh belas kasihan. Itu
sebabnya, setiap guru Kristen perlu memikirkan dan mengembangkan karakter belas
kasihan agar menjadi gaya hidup, baik dalam konteks keluarga, gereja,
masyarakat, dan terutama dalam konteks sekolah.
A. Pengertian Belas Kasihan
Saya sependapat dengan J. M. Price yang memandang belas kasihan sebagai
simpati[1].
Hal ini nampak dari pernyataannya dalam buku Yesus Guru Agung yang
menyatakan “Memang kadang-kadang Ia pun
bersama dengan orang banyak. Orang-orang mengikuti Dia di Kapernaum, Yerusalem,
Dekapolis, dan tempat-tempat lain. Kadang-kadang mereka berjumlah 4.000 sampai
5000 orang. Ia menaruh simpati kepada
mereka, Ia berbicara dengan mereka, Ia memberi mereka makan, dan Ia
menyembuhkan mereka. Simpati merupakan sikap peduli terhadap sesama yang muncul
dari hati seseorang yang merasakan apa yang dirasakan oleh orang lain dan yang
diwujudnyatakan dalam tindakan.
B. Makna Belas Kasihan
Belas kasihan merupakan realita kehidupan yang tidak bisa diabaikan.
Namun, belas kasihan yang dimaksud tidaklah berhenti pada aspek perasaan saja,
namun harus diikuti dengan tindakan. Seperti yang dilakukan oleh Yesus Kristus,
diawali dengan rasa belas kasihan lalu dilanjutkan dengan suatu tindakan nyata
dan mukjizat (bnd. Mat. 9:36; Mat.
14:14; dll). Kisah yang sangat terkenal
tentang belas kasihan dicatat oleh Lukas (bnd. 10:25-37). Kisah itu
menceritakan mengenai orang Samaria yang menolong seorang Ibrani yang telah
dirampok dan sedang terluka. Dalam kisah ini, Yesus menggambarkan bahwa belas
kasihan tidak dibatasi oleh perbedaan ras, tradisi atau status sosial. Belas
kasihan bebas dari rasa pamrih dan kepentingan pribadi. Inilah yang perlu
diperhatikan oleh seorang guru dalam hubungannya dengan peserta didik yaitu
belas kasihan yang tidak dibatasi oleh
ras, agama, status, intelektual, dll. Misalnya, seorang guru tidak boleh hanya
menyenangi seorang peserta didik yang pintar dan mengabaikan yang kurang
pintar. Justru seorang guru adalah menolong peserta didik yang kurang pintar
agar dapat mengikuti pelajaran dan menjadikan mereka menjadi pribadi yang hebat.
Belas kasihan ditunjukkan bagi mereka yang benar-benar membutuhkannya.
C. Ruang Lingkup Kompetensi
Kepribadian
Kompetensi kepribadian adalah kemampuan personal yang mencerminkan
kepribadian yang mantap, stabil, dewasa, arif dan berwibawa, menjadi teladan bagi
peserta didik, dan berakhlak mulia[2].
Jika dibagi ke dalam sub kompetensi maka:
·
Kepribadian yang mantap dan stabil
·
Kepribadian yang dewasa
·
Kepribadian yang arif
·
Kepribadian yang berwibawa
·
Berakhlak mulia dan dapat menjadi
teladan. Karakter belas kasihan termasuk dalam bagian ini. Sebab indikator dari
sub kompetensi ini adalah bertindak sesuai dengan norma religius (iman, takwa,
jujur, ikhlas, suka menolong) dan memiliki perilaku yang diteladani oleh
peserta didik.
D.
Masalah
Terkait Dengan Karakter Belas Kasihan
·
Praktek ketidakdisiplinan
dalam mengemban dan menunaikan tugas dan panggilannya sebagai guru. Hal ini
disinyalir karena kurang peduli dengan kebutuhan peserta didik.
·
Pemberian hukuman dengan
kekerasan dan teguran dengan mengucapkan kata-kata kotor.
·
Tidak mau meningkatkan
kompetensi diri untuk lebih baik dari sehari ke sehari. Seyogianya, orang yang
peduli terhadap peserta didiknya akan terus membangun kompetensi diri agar
dapat memberikan yang terbaik bagi mereka. Howard Hendricks (1987) mengemukakan
bahwa guru harus menjadi pembelajar. Kalau ia berhenti belajar sekarang,
perubahan pengetahuan, sikap, nilai hidup, dan spiritualitasnya di masa
mendatang akan mandeg. Akibatnya peserta yang di didik tidak memperoleh hal-hal
yang baru dari proses belajar mengajar.
·
Memandang tugas mengajar
hanya sebatas menyampaikan materi atau bahan pengajaran. Contoh, ada seorang
guru Kristen yang datang ke kelas hanya memberi ilmu atau mentransfer
pengetahuan, dan sesudah mengajar ia pulang tanpa peduli mengenai hal-hal yang
dialami dan dihadapi peserta didiknya. Dalam hal ini ia melupakan perannya yang
lain sebagai konselor, gembala, pembimbing, dll.
·
Kurangnya koordinasi
antara guru dan orangtua. Guru tidak menjalin relasi yang baik dengan orangtua
dalam mengajar dan mendidik peserta didiknya. Padahal seharusnya guru dan
orangtua adalah rekan sekerja. Namun, karena kurangnya kepedulian hal itu tidak
bisa tercipta.
·
Tidak mengetahui banyak
mengenai peserta didiknya; latar belakang keluarga, ekonomi, lingkungan tempat
tinggal, dll.
·
Tidak memberikan jalan
keluar bagi mereka yang tidak mampu membayar uang sekolah, buku, study tour, dll.
·
Memberikan tugas-tugas
yang berat terhadap peserta didiknya tanpa bersedia untuk mendampinginya.
·
Memaksakan kehendak
terhadap peserta didiknya. Dalam hal ini peserta didiknya tidak dilibatkan
dalam perencanaan proses belajar-mengajar.
E.
Teladan
Hidup Berbelas Kasihan
1.
Allah
Bapa
Yang pertama sekali
mempraktikkan cara hidup yang penuh belas kasihan adalah Allah Bapa (bnd. Rom.
5:8). Para nabi dan abdi Allah sadar akan keajaiban rahmat dan belas kasih
Allah terhadap orang berdosa dan orang sengsara[3].
Allah Bapa penuh belas kasih (Pengasih dan Penyayang) lihat, 2 Kor. 1:3; Kel.
34:6; Neh. 9:7; Mzm. 86:15). Demikian juga di dalam Yohanes 3:16, bahwa Allah
mengaruniakan Yesus Kristus datang ke dunia ini adalah untuk menebus dan
menyelamatkan manusia berdosa atas dasar kasih-Nya yang amat besar.
2.
Allah
Putera Yaitu Yesus Kristus
Hati Yesus kerap kali
tergugah oleh belas kasih. Ada beberapa ayat yang merepresentasikan bahwa Yesus
Kristus adalah pribadi yang penuh belas kasihan[4]
yaitu:
·
Matius 9:36. Kata ini dipakai di dalam Matius 9:36, yang menyebutkan Yesus Melihat
orang banyak itu, tergeraklah hati Yesus oleh belas kasihan kepada mereka,
karena mereka lelah dan terlantar seperti domba yang tidak bergembala. Dalam hal ini bisa dikatakan bahwa Yesus
juga peduli terhadap kebutuhan jasmani.
·
Matius 14:14. Kali kedua penggunaan kata 'belas kasihan' ini adalah di dalam
peristiwa pemberian makan kepada 5000 orang (Matius 14:14) dan 4000 orang
(Matius 15:32).
·
Markus 1:41. Yang ketiga kalinya, kata ini digunakan di dalam Markus 1:41 di mana
Yesus berbelas kasihan kepada penderita kusta.
·
Matius 20:34. Peristiwa keempat di mana Dia berbelas kasihan adalah saat
menyembuhkan dua orang buta.
·
Lukas 7:11. Kejadian kelima di mana Dia berbelas kasihan dalam peristiwa janda dari
Nain yang ditinggal mati oleh anaknya, di dalam Lukas 7:11.
Dari ayat tersebut diatas dapat disimpulkan
bahwa Yesus Kristus sangat peduli terhadap penderitaan yang dialami oleh orang
banyak, baik penderitaan secara fisik, penderitaan secara psikologis maupun
penderitaan secara rohani.
3.
Allah Roh Kudus
Alkitab
menyebutkan Roh Kudus sebagai penolong (bnd. Yoh. 14:16), penghibur (bnd.
14:26), membantu untuk berdoa (bnd. Rom. 8:28), yang memimpin ke dalam seluruh
kebenaran (bnd. Yoh. 16:13), menginsafkan dunia akan dosa (bnd. Yoh. 16:8), Roh
Kudus diutus untuk menyertai setiap orang yang percaya kepada-Nya (bnd. Yoh.
16:16) menunjukkan bahwa Ia adalah pribadi yang penuh belas kasihan, bahkan
jati diri-Nya adalah kasih.
F.
Kunci
Hidup Berbelas Kasihan
Ada beberapa dasar yang
harus disadari dan dipikirkan oleh guru Kristen agar menampilkan hidup yang
berbelas kasihan dalam mengemban dan menunaikan tugasnya sebagai pengajar dan
pendidik yaitu:
1.
Mengemban
Dan Menunaikan Tugas Panggilannya Dengan Hati Bukan Dengan Otak.
Mengajar dan mendidik
dengan otak hanya akan menjadikan guru peduli terhadap masalah seputar
pendidikan, namun ia akan mengabaikan masalah-masalah pribadi yang dihadapi
oleh peserta didiknya. Yang penting baginya adalah menyampaikan materi
pengajaran dengan sebaik-baiknya sehingga peserta didik menguasai apa yang
diajarkannya. Namun, hal-hal yang membuat peserta didik kurang bersemangat
dalam mengikuti proses belajar tidak terlalu penting baginya. Demikian juga
dengan peserta didik yang kurang pintar tidak akan disenangi melainkan dipukul,
diejek, dan dipermalukan. Seharusnya, Ia bertugas untuk membantunya agar dapat
mengikuti proses belajar mengajar dengan baik. Belas kasih dianugrahkan pada peserta didik yang sebenarnya sangat
membutuhkannya. Mengenai hal ini, J.M. Nainggolan dalam buku Guru Agama Kristen
Sebagai Panggilan Dan Profesi menyatakan;
Guru sebagai
pengajar dan pendidik siswa berperanan membantu siswa dalam menghadapi
masalah-masalah belajarnya. Tugas guru bukan hanya memberi ilmu, mentransfer
ilmu dan sudah mengajar pulang. Guru juga adalah sebagai gembala bagi para
muridnya. Ia memberi perhatian, simpati, dan bersikap empati kepada siswanya.[5]
Dalam
hal ini seorang guru Kristen hendaknya memperlakukan siswanya sebagai pribadi
yang utuh. Guru yang baik akan peka terhadap kebutuhan peserta didiknya.
Sebelum memberi penghakiman, hukuman atau teguran, ia akan mencoba mencari tahu mengapa peserta
didiknya mendapat nilai jelek di sekolah atau menjadi pembuat masalah di
sekolah. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa hanya orang yang mengemban dan
menunaikan tugas panggilannya dengan hatilah yang dapat melihat kebutuhan
terdalam dari orang lain dan mau berkorban baginya. Dan jika hal ini tercipta
maka guru Kristen akan mengajar peserta didiknya dengan sikap hati melayani
supaya mereka menjadi generasi-generasi yang kreatif.
2.
Mengemban
Dan Menunaikan Tugas Dan Panggilannya Dengan Motivasi Untuk Membuat Hidup Orang
Lain Lebih Baik Demi Kemuliaan Nama Tuhan, Bukan Hanya Untuk Mengisi Perut.
Dalam hidup manusia, ada
dua kekuatan pendorong yang paling kuat. Pertama,
“kelaparan” alias perutnya”. Kedua,
“belas kasihan” atau “hatinya”. Yang menjadi pertanyaan saat ini adalah apa
pendorong guru-guru Kristen yang paling kuat dalam mengemban dan menunaikan
tugas dan panggilannya? Perutkah atau hati? Banyak sekali guru-guru yang menata
kehidupannya dengan meletakkan kepentingan perutnya sebagai fokus atau menjadi
guru hanya sebagai profesi. Seluruh tujuan hidupnya dipahami sebagai bagaimana
mempertahankan hidup. Apa akibatnya? Yang bersangkutan justru akan rakus,
kasar, dan kurang peduli terhadap orang lain, termasuk peserta didiknya. Yang
prioritas baginya adalah kepentingan dirinya bukan kepentingan bersama. Bagi
dia segala sesuatu yang tidak mendatangkan keuntungan tidak dilakoninya. Dalam
hal ini perlu disadari oleh setiap guru Kristen bahwa menjadi guru adalah
profesi dan panggilan hidup[6].
3.
Membangun
Spiritualitas Yang Sehat Dengan Memiliki Keakraban Dengan Allah Tritunggal.
Pengenalan yang bertambah
baik tentang pribadi Yesus akan memungkinkan guru untuk makin berubah dalam
aspek kepribadian, yang ukurannya ialah menyerupai Kristus yang lemah lembut
dan rendah hati serta penuh belas kasihan[7].
Tanda bahwa manusia semakin bertumbuh dalam spiritualitas adalah bahwa ia
semakin mampu menunjukkan belas kasihan kepada orang lain. Yoh. 14: 21
mengatakan “Barangsiapa memegang
perintah-Ku dan melakukannya Dialah yang mengasihi Aku,……………..” Kasih
terhadap peserta didik dapat terwujud dalam praktek belajar mengajar apabila
seorang guru telah mengasihi Allah yang lebih dahulu mengasihinya. Keinginan
untuk mengasihi peserta didik timbul sebab ia merasa bahwa ia sudah dikasihi
oleh Tuhan dan ia akan mengejawantahkannya kepada orang lain sebagai ungkapan
syukur atas belas kasihan-Nya. Dengan kata lain, bersekutu secara akrab atau
bersahabat dengan Yesus, dikatakan atau dijanjikan-Nya bahwa kita akan berbuah
seterusnya (bnd. Yoh. 15:4,5). Ada energi kehidupan di dalam diri mereka yang
terus berelasi dengan Yesus (bnd. Yoh. 7:38)[8].
Penyerahan diri secara total
kepada Roh Kudus juga adalah kunci untuk memiliki karakter-karakter Allah. Hal
ini bisa dilihat dalam Galatia 5: 22-25, bahwa orang yang dipimpin oleh Roh
akan menghasilkan buah-buah Roh yaitu kasih, sukacita, damai sejahtera,
kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan dan penguasaan diri.
Hal ini senada dengan pandangan B.S. Sidjabat Ed.D, yang memaparkan:
Roh Allah di dalam diri kita mengerjakan
banyak perkara luar biasa. Diantaranya, Dia bertugas menyatakan identitas diri
kita sebagai anak-anak Allah; bahwa kita menjadi milik atau kawanan keluarga
dari Allah Sang Khalik. Keyakinan ini sangat kuat, bahkan mendorong kita berani
untuk menyaksikan kepada orang lain. Roh itu memberikan hikmat dan pengertian
spiritual, yang mempengaruhi pola pikir, perasaan dan sikap serta moral kita.
Roh Kudus itu pula yang akan memberikan tabiat-tabiat baru, karakter atau
akhlak mulia, sebagaimana didambakan oleh masyarakat dewasa ini[9].
4.
Memiliki
Kerinduan Untuk Hidup Lebih Baik.
Kemampuan atau kompetensi
memang tidak datang begitu saja tanpa upaya untuk meningkatkan diri dan
merupakan usaha sepanjang hayat. Seperti yang dikatakan bahwa belajar di
sekolah ada tamat atau lulusnya namun membangun karakter belas kasihan adalah
upaya secara terus-menerus sampai Tuhan datang untuk kedua kalinya. Dalam hal
ini seorang guru Kristen dapat terus bertanya kepada dirinya sendiri tentang
bagaimana supaya hidup saya lebih baik atau lebih memiliki belas kasihan? Salah
satu strategi yang dapat dilakukan untuk membangun dan mengembangkannya adalah
dengan memasuki komunitas yang mempraktekkan kepedulian terhadap orang lain. B.S.
Sidjabat Ed.D mengatakan bahwa spiritualitas dapat berkembang baik ketika kita
ikut dalam aksi sosial, seperti mengunjungi orang sakit dan menderita dan
membantu mereka.
Bisa juga dengan memasuki
komunitas kawan-kawan seiman. Persekutuan itu menjadi wadah pertumbuhan
spiritualitas dalam Kristus dan yang pada akhirnya akan diikuti oleh perubahan
karakter. Seperti dikatakan di dalam Amsal 27:17 “Besi menajamkan besi, orang menajamkan sesamanya”. Guru Kristen
tidak dapat bertumbuh dan berkembang dalam suasana terisolasi atau kesendirian.
Itu sebabnya perlu untuk aktif dalam sebuah komunitas yang membangun.
5.
Berpegang
Pada Firman Tuhan Yang Berbicara Mengenai Kompetensi Kepribadian
Alkitab banyak berbicara
mengenai berbagai kompetensi kepribadian[10]. Itu
sebabnya setiap guru Kristen perlu untuk bergaul karib dengan Firman Tuhan agar
prinsip-prinsip yang termaktub di dalamnya dapat tertanam dan menjadi gaya hidup.
G.
Pentingnya
Praktek Hidup Yang Berbelas kasihan
Pentingnya praktek hidup
yang berbelas kasihan dimiliki oleh orang Kristen terutama oleh guru-guru
Kristen adalah karena Allah sendiri yang memerintahkan[11] dan
mempraktekkannya. Di Kitab Injil sangat jelas dicatat bahwa Ia menyuruh murid-murid-Nya
untuk menunjukkan belas kasih kepada orang lain yang membutuhkan pertolongan
mereka. Belas kasih mereka harus serupa dengan belas kasih-Nya, bahkan
diperintahkan untuk berkorban bagi orang lain (1 Yoh. 3:17). Belas kasihan
Allah tampak dalam sikap-Nya terhadap
semua ciptaan-Nya. Tak seekor burung pipit pun dilupakan-Nya (Luk. 12:6). Allah
memberi makan burung-burung gagak (12:24) dan mendandani tanam-tanaman (12:27-28).
Para pengikut Yesus dengan demikian mendapat pelajaran ini; Allah memelihara
semua yang telah diciptakan-Nya, pasti akan memelihara mereka.[12] Demikian
juga seorang guru perlu mempraktekkannya dalam perencanaan dan pelaksanaan
tugas mengajar-Nya. Sebagaimana, Yesus tergerak hati-Nya oleh belas kasihan,
demikianlah hendaknya setiap guru tergerak hatinya melihat peserta didiknya
yang mengalami masalah. Contoh, praktek belas kasihan antara guru dan peserta
didik:
a. Menjenguk peserta didik yang sakit
b. Membantu peserta didik yang tertimpa
musibah
c. Menolong peserta didik yang
kesusahan
d. Membantu memecahkan masalah peserta
didik
e. Meringankan biaya sekolah
f. Dll.
Yang menarik adalah bahwa tiga sifat
tugas pelayanan Yesus Kristus yang dicatat di dalam Alkitab yaitu mengajar,
memberitakan Injil serta melenyapkan segala penyakit (bnd. Mat. 4:23;9:35)
dilakukan dengan motif belas kasihan yaitu belas kasihan terhadap orang Israel
yang tidak memiliki pemimpin yang diberikan Allah (bnd. Bil. 27:17-20; 1
Raja-raja 22:17)[13]. Itu
sebabnya guru-guru Kristen perlu memiliki motif yang sama dalam menunaikan
panggilannya.
Di dalam arus dunia yang
kejam dan menghalalkan segala cara demi kepentingan diri sendiri, karakter
Allah dan teladan Yesus Kristus perlu dipikirkan dan dikumandangkan oleh
guru-guru Kristen saat-saat ini. Meskipun belas kasihan tampaknya jarang
ditemukan pada masa kini, guru-guru Kristen dipanggil untuk menjadi serupa
dengan Kristus, Dengan demikian dapat disebut sebagai guru yang memiliki
kualifikasi kepribadian yang berkualitas.
Guru-guru Kristen perlu
membangun dan mengembangkan sikap simpati terhadap peserta didik. Setiap
peserta didik membawa konsep positif dan negatif dari lingkungannya. Itu
sebabnya, perlu disadari bahwa Tuhan memanggil dan menetapkan menjadi guru agar
memberi perhatian bahkan membantu pemenuhan kebutuhan mereka. Guru adalah
teladan bagi peserta didiknya. Bukan hanya teladan dalam hal menyampaikan
materi, namun juga teladan dalam sikap hidup yang di dalamnya menampilkan hidup
yang berbelas kasihan.
Dengan demikian dapat
dikatakan bahwa Alkitab dan Tuhan Yesus Kristus Sang Guru Agung adalah norma
dan teladan dalam menanggapi tugas dan panggilan sebagai guru. Itu sebabnya
guru-guru perlu mempelajari profil Yesus sebagai guru Agung di dalam Alkitab
karena hal itu tetap relevan dari zaman ke zaman.
[1] Simpati adalah keikutsertaan
merasakan perasaan (senang, susah, dsbg) orang lain. Misalnya, melihat rakyat yang menderita akibat bencana alam. Lihat, Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia (Jakarta:
Balai Pustaka, 2003), h. 1067.
[2] Dikutip oleh B.S. Sidjabat Ed.D dalam buku Yesus Sang Guru dan Profesi Keguruan (Cihanjuang:Tiranus, 2008), h.
55, dari “Direktorat Ketenagaan Dirjen Dikti dan Direktorat Profesi Pendidik
Ditjen PMPTK Depdiknas Dengan Modifikasi” dalam Kunandar, Guru Profesional
(Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2007: 75-77).
[3] LAI, Ensklopedi Alkitab Masa
Kini Jilid A-L (Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih, 2004), h. 528.
[4] Ini merupakan contoh belas kasihan Yesus terhadap orang yang
memerlukan pertolongan. Lihat, LAI, Alkitab
Penuntun Hidup Berkelimpahan (Malang: Gandum Mas, 2006), h. 1533.
[5] J. M. Nainggolan, Menjadi Guru
Agama Kristen Sebagai Panggilan Dan Profesi (Bandung: Bina Media Informasi,
2010), h. 175.
[6] Menjadi guru Kristen adalah sebagai profesi dan panggilan hidup. Di
satu pihak dia bertanggungjawab terhadap pemerintah atau organisasi. Dan pihak
lain dia harus bertanggung jawab kepada Tuhan yang sudah memanggil dan
menetapkannya sebagap pengajar. Hal ini sudah dibahas oleh J. M. Nainggolan di
bawah judul, Guru Agama Kristen Sebagai
Panggilan dan Profesi (Bandung: Bina Media Informasi, 2010).
[7] B.S. Sidjabat Ed.D, Mengajar
Secara Profesional (Bandung: Kalam Hidup, ), h. 73.
[8] B.S. Sidjabat Ed.D, Yesus Sang
Guru Dan Proofesi Keguruan (Cihanjuang: Tiranus, 2008), h. 67.
[9] B.S. Sidjabat Ed.D, Yesus Sang
Guru Dan Profesi Keguruan (Cihanjuang: Tiranus, 2008), h.66.
[10] Sebagai guru dan pelaku pendidikan kita tidak kekurangan sumber
berharga dari Firman Tuhan untuk pengembangan kepribadian kita. Kalau kita
membawa diri dan pribadi kita seutuhnya ke tengah-tengah kelas ketika melayani
anak didik, betapa pentingnya kita bertumbuh dengan kompetensi kepribadian yang
terpuji. Lihat, B.S. Sidjabat, Ed.D, Yesus Sang Guru Dan Profesi Keguruan
(Cihanjuang: Tiranus, 2008), h. 57.
[11] Lihat, Matius 9:13 “Jadi pergilah dan pelajarilah arti firman
ini: Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan, karena Aku
datang bukan untuk memanggil orang benar”.
[12] Leon Morris, Teologi Perjanjian
Baru (Malang: Gandum Mas, 2001), h. 212.
[13] LAI, Tafsiran Alkitab Masa Kini
– Matius Wahyu (Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih, 2006), h. 82.
Komentar
Posting Komentar